Sabtu, 11 Mei 2013

Warta Urang

Sejumlah Mata Air Pemasok Air Baku ke PDAM Tirta Medal Kondisinya Memprihatinkan

   

SUMEDANG, (PRLM).- Sejumlah mata air yang menjadi sumber air baku PDAM Tirta Medal Kab. Sumedang, saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. 

Debit airnya mengalami penyusutan drastis akibat dampak kerusakan lingkungan, seperti penggundulan hutan serta penambangan liar. Penyusutan debit airnya sangat dirasakan ketika musim kemarau.
Menurut Kasi Produksi dan Pengelolaan Laboraturium PDAM Tirta Medal Kab. Sumedang, Iskandar ditemui di ruang kerjanya, Jumat (10/5), penyusutan debit air tersebut terjadi di sejumlah mata air yang menjadi sumber air minum PDAM. 

Seperti halnya di mata air Cioraygede, Desa Cijambe, Kec. Paseh yang berada di kaki Gunung Tampomas. Dari debit air yang masuk ke bak penampungan (inteak) 52 liter per detik, ketika musim kemarau menurun drastis hingga 18 liter per detik atau penurunannya mencapai 70 persen.

“Dari sini saja sudah kelihatan, penurunannya sangat drastis ketika musim kemarau. Penyusutan debit air ini, dampak negatif dari galian pasir dan batu (sirtu) di kaki Gunung Tampomas. Penambangannya tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Begitu juga, imbas dari pembabatan hutan rakyat, ” kata Iskandar.
Contoh lainnya, kata dia, debit mata air Cipanteuneun di Kec. Cimalaka. Dari semula debit airnya 100 liter per detik, kini menurun tajam di musim kemarau hanya 15 liter per detik. 

Bahkan di musim hujan, debit airnya hanya naik sedikit menjadi 30 liter per detik. Penyusutan debit mata air Cipanteuneun itu pun, imbas ekploitasi penambangan galian C, seperti pasir dan batu.

“Jika galian pasir ini tidak segera ditertibkan apalagi penambangan liar, Sumedang bisa kekeringan. Sebab, penurunan debit mata air di kaki Gunung Tampomas, sekarang sudah sangat memprihatinkan,” ujarnya.
Kondisi serupa terjadi di mata air Nangorak di Desa Margamekar, Kec. Sumedang Selatan, tepatnya di kawasan Gunung Kareumbi. 

Dari debit air normal sebesar 28-30 liter per detik, ketika kemarau turun menjadi 10 liter per detik. Penurunannya dampak kerusakan lingkungan di sekitar pegunungan Kareumbi, khususnya penebangan hutan rakyat. 

“Salahnya lagi, pepohonan yang bisa menyimpan air ditebang, diganti dengan pohon yang banyak menyerap air. Pohon yang menyimpan air, seperti pohon aren, kihujan, sukun, dll. Pepohonan itu ditebang lalu diganti dengan pohon sengon dan jabon yang banyak menyerap air,” tuturnya.

Lebih jauh Iskandar menjelaskan, dampak penurunan debit mata air di sejumlah mata air itu, menyebabkan PDAM kekurangan pasokan air minum untuk melayani para pelanggannya. 

Kondisi itu, dirasakan ketika musim kemarau yang tinggal sebulan lagi. Beberapa daerah yang selalu kekurangan air di musim kemarau, seperti wilayah Kec. Sumedang Utara dan Sumedang Selatan,

“Guna mengatasi kekurangan pasokan air bagi pelanggan, kami melakukan jadwal penyaluran secara bergilir. Seandainya upaya itu tetap sulit, baru lah kami akan menyalurkan air minum kepada pelanggan melalui tangki. Kita juga terus berupaya mencari sumber air yang baru untuk menambah pasokan, terutama di saat musim kemarau, ” tutur Iskandar.
 
Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/234409

Warta Urang

About Warta Urang

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :